Kisah Nabi Nuh a.s (Alaihi salam)
Kisah Nabi Nuh a.s.
1. Kehidupan Awal dan Pengangkatan Sebagai Nabi
Nabi Nuh adalah keturunan dari Nabi Adam a.s., lahir di masa ketika manusia sudah mulai menyimpang dari ajaran kebenaran. Sejak muda ia dikenal sebagai orang yang jujur, berakhlak mulia, dan senantiasa beribadah kepada Allah. Ketika umat manusia sudah banyak yang menyembah berhala serta melakukan berbagai perbuatan buruk, Allah mengangkat Nabi Nuh sebagai rasul untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak mereka kembali menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Saat itu usianya sudah mencapai 480 tahun.
2. Perjuangan Dakwah Selama Berabad-abad
Selama kurang lebih 950 tahun, Nabi Nuh berdakwah dengan penuh kesabaran. Ia menyampaikan pesan baik secara terang-terangan maupun diam-diam, menjelaskan kebesaran Allah, ancaman siksa bagi orang yang ingkar, serta janji rahmat dan surga bagi orang yang beriman. Namun sebagian besar kaumnya menolak ajakan itu. Mereka mengejeknya, menyebutnya orang gila, orang yang tidak lebih dari manusia biasa seperti mereka, dan bahkan mengancamnya. Hanya sedikit orang yang mau beriman, di antaranya adalah beberapa anggota keluarganya dan orang-orang dari kalangan masyarakat sederhana.
Di antara yang menolak ada juga anggota keluarganya sendiri, yaitu salah satu putranya, yang lebih memilih mengikuti kebiasaan kaumnya yang ingkar. Begitu pula istri Nabi Nuh, yang ternyata tidak beriman dan justru membantu orang-orang yang menentang dakwah suaminya.
3. Perintah Membuat Kapal
Ketika kaumnya tetap tidak mau beriman dan terus berbuat kejahatan, Allah menyampaikan kabar bahwa mereka akan dihukum dengan banjir besar yang menenggelamkan seluruh tempat tinggal mereka. Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal yang besar di atas tanah yang kering, jauh dari sungai maupun laut.
Dengan kesabaran yang luar biasa, Nabi Nuh menjalankan perintah itu. Setiap kali orang-orang yang tidak beriman melewatinya, mereka mengejek dan menertawakan, berkata, “Wahai Nuh, engkau ini membuat kapal di tempat yang tidak ada airnya? Apakah engkau hendak berlayar di daratan?” Nabi Nuh tetap diam dan tidak terpengaruh, bahkan sesekali menjawab bahwa kelak mereka akan mengetahui kebenaran dari apa yang disampaikannya. Kapal itu dibuat dari berbagai jenis kayu, memiliki banyak ruangan, dan cukup kuat menahan arus air yang besar.
4. Datangnya Banjir Besar
Ketika pembuatan kapal selesai, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk memasukkan ke dalam kapal setiap jenis makhluk hidup, masing-masing sepasang laki-laki dan perempuan, serta mengajak orang-orang yang beriman untuk naik bersamanya. Saat itu air mulai memancar dari berbagai tempat, dari tanah, dari langit, dan dari sumber air lainnya, sehingga air di bumi terus meninggi dan menutupi seluruh permukaan tanah.
Saat peristiwa itu berlangsung, Nabi Nuh melihat putranya yang tertinggal di daratan dan berusaha memanggilnya untuk naik ke kapal. Namun putranya menjawab bahwa ia akan naik ke puncak gunung yang dianggapnya dapat melindunginya dari air. Nabi Nuh berpesan bahwa tidak ada yang dapat melindungi seseorang dari ketetapan Allah kecuali orang yang diberi rahmat. Akhirnya putranya itu ikut tenggelam bersama orang-orang yang ingkar, dan Nabi Nuh pun merasa sedih mendalam. Ia memohon kepada Allah tentang nasib putranya, lalu dijelaskan bahwa putranya itu bukan termasuk keluarganya yang dijanjikan keselamatan, karena perbuatannya yang tidak beriman dan menyimpang dari kebenaran.
Istri Nabi Nuh juga turut binasa karena keingkarannya, menjadi pelajaran bahwa ikatan darah tidak akan menyelamatkan seseorang jika ia tidak memegang teguh keimanan dan ketaatan kepada Allah.
5. Berakhirnya Banjir dan Kehidupan Baru
Air pun mulai surut atas kehendak Allah, dan kapal itu akhirnya berlabuh di sebuah tempat yang bernama Gunung Judi. Semua orang dan makhluk hidup yang ada di dalam kapal selamat dari bencana itu. Setelah keadaan kembali tenang, mereka pun turun dari kapal dan mulai membangun kehidupan baru di bumi. Nabi Nuh menyampaikan ajaran kebenaran sekali lagi kepada keturunan mereka, mengingatkan akan peristiwa yang telah terjadi sebagai pelajaran abadi tentang akibat dari keingkaran dan kejahatan.
Nabi Nuh hidup cukup lama setelah peristiwa itu, dan diakui sebagai salah satu nabi yang memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia wafat setelah menyelesaikan tugas yang diberikan Allah kepadanya, meninggalkan warisan keimanan dan pelajaran yang terus diingat oleh manusia hingga sekarang.
