Kisah Nabi Saleh a.s ( Alaihi salam)
Kisah Nabi Saleh a.s.
1. Keadaan Kaum Tsamud
Kaum Tsamud adalah keturunan dari kaum ‘Ad yang telah binasa. Mereka mendiami wilayah yang terletak antara Hijaz dan Syam, dikenal dengan tanah yang subur dan sumber air yang melimpah. Mereka juga memiliki keahlian luar biasa dalam membangun tempat tinggal, bahkan memahat rumah-rumah yang kokoh di dalam bukit batu besar.
Meskipun diberi berbagai nikmat yang melimpah, mereka tidak bersyukur. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai meninggalkan jalan kebenaran dan menyembah berhala. Mereka menjadi masyarakat yang sombong, sewenang-wenang, serta membedakan perlakuan antara orang kaya dan orang miskin. Orang-orang yang berkuasa bertindak semaunya tanpa memedulikan hak orang lain, sedangkan orang lemah sering kali tertindas. Mereka meyakini bahwa keadaan baik yang mereka miliki semata-mata hasil usaha mereka sendiri, bukan karunia dari Tuhan, sehingga mereka merasa tidak memerlukan ajaran agama atau petunjuk apa pun.
2. Diutusnya Nabi Saleh
Allah kemudian mengutus Nabi Saleh, yang berasal dari kalangan mereka sendiri dan dikenal sebagai orang yang terhormat, jujur, serta berakhlak mulia, untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Ia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sungguh telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta betina dari Allah sebagai tanda bagimu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu menyakitinya, nanti kamu akan ditimpa azab yang pedih.”
Nabi Saleh menjelaskan bahwa segala kenikmatan yang mereka miliki adalah pemberian Allah, dan hanya kepada-Nya mereka harus memohon serta bersyukur. Ia juga memperingatkan mereka tentang nasib kaum terdahulu yang binasa karena kesombongan dan keingkaran, serta mengajak mereka untuk berbuat adil dan saling menghormati sesama.
3. Penolakan dan Permintaan Bukti yang Mustahil
Kaum Tsamud tidak menyambut ajakan itu dengan baik. Sebagian besar dari mereka menolak, terutama orang-orang yang sombong dan berkuasa. Mereka meragukan kebenaran perkataan Nabi Saleh, bahkan menyebutnya sebagai orang yang terkena gangguan jiwa, orang yang ingin diangkat sebagai pemimpin semata, dan manusia biasa yang tidak memiliki keistimewaan apa pun dibandingkan mereka.
Mereka kemudian meminta bukti nyata sebagai syarat keimanan, namun meminta sesuatu yang menurut mereka mustahil terjadi. Mereka berkata, “Jika engkau benar-benar diutus Allah, keluarkanlah untuk kami seekor unta betina yang keluar dari dalam batu ini, dengan ciri-ciri yang telah kami tentukan.” Mereka menyebutkan ukuran, warna, dan ciri-ciri lain yang sangat spesifik, dengan anggapan permintaan itu tidak akan pernah terkabul, sehingga mereka tetap dapat menolak ajakan Nabi Saleh.
Atas kehendak Allah, permintaan mereka itu terkabul. Tiba-tiba batu yang mereka tunjukkan terbelah, dan keluarlah seekor unta betina yang sesuai dengan semua ciri yang mereka sebutkan, bahkan lebih indah dan kuat dari yang mereka bayangkan. Namun alih-alih beriman, sebagian dari mereka tetap menolak dan bahkan merasa terganggu dengan keberadaan hewan itu.
4. Perintah dan Pelanggaran Kaum Tsamud
Nabi Saleh menyampaikan perintah dari Allah bahwa unta itu adalah tanda kebesaran-Nya, dan mereka dilarang menyakitinya atau menghalanginya dari haknya. Hewan itu memiliki giliran minum dari sumber air yang ada, sedangkan kaum Tsamud memiliki giliran di hari lain. Keberadaannya juga membawa berkah, karena setiap kali ia memakan tumbuhan, akan tumbuh tanaman baru yang lebih subur, dan air yang diminumnya akan digantikan dengan air yang lebih banyak lagi.
Namun hati kaum Tsamud telah tertutup oleh kesombongan dan kebencian. Mereka bersekongkol untuk menyakiti bahkan membunuh unta itu. Orang-orang yang berusaha mencegah mereka diancam dan dihina. Akhirnya, beberapa orang yang berniat jahat berhasil melukai kemudian membunuh hewan itu, serta menghina peringatan yang telah disampaikan Nabi Saleh. Mereka bahkan menantang untuk mendatangkan azab yang diancamkan jika perkataan Nabi Saleh benar.
Melihat perbuatan itu, Nabi Saleh merasa sedih dan berkata, “Nikmatilah kehidupanmu di negerimu selama tiga hari lagi. Itulah janji yang tidak akan dusta.” Ia kemudian meninggalkan tempat itu bersama orang-orang yang beriman dan mengikuti ajarannya.
5. Datangnya Azab dan Akhir Kaum Tsamud
Sesuai janji yang telah disampaikan, azab mulai menimpa mereka hari demi hari. Hari pertama kulit mereka menjadi kekuningan, hari kedua memerah, dan hari ketiga menghitam. Pada hari keempat, datanglah suara gemuruh yang sangat dahsyat disertai getaran bumi yang hebat. Suara itu terdengar seperti petir yang terus-menerus, namun tidak ada hujan, dan getaran itu membuat tanah bergerak tak terkendali. Semua orang yang ingkar dan bersekongkol dalam perbuatan buruk itu binasa seketika, mereka tergeletak mati di tempat tinggal masing-masing, bangunan-bangunan yang mereka bangun hancur lebur, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat.
Peristiwa ini menjadi peringatan yang abadi bagi seluruh manusia, bahwa kesombongan, keingkaran, dan pelanggaran terhadap perintah Allah akan mendatangkan akibat yang buruk, tidak peduli seberapa kuat atau makmur keadaan seseorang atau sekelompok orang.
6. Akhir Kehidupan Nabi Saleh
Setelah peristiwa itu, Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman berpindah ke tempat yang aman dan terus menyampaikan ajaran kebenaran kepada orang-orang di sekitarnya. Ia menjalankan tugas sebagai utusan Allah dengan penuh kesabaran dan ketabahan hingga akhir hayatnya, dan ia dianugerahi tempat yang mulia di sisi-Nya.
